INFO WARGE PONTIANAK

Budaya Cap Go Meh di Kalbar: Jejak Akulturasi Tionghoa dan Lokal Menguatkan Identitas Multikultural

Foto. Atraksi Tatung dalam Perayaan Cap Gomeh di Singkawang (Dok. Kominfo Singkawang)

INFOWARGEPONTIANAK.COM, SINGKAWANG – Perayaan Cap Go Meh di Kalimantan Barat kembali mencuri perhatian publik. Lebih dari sekadar ritual tradisi Tionghoa, perayaan ini kini menjadi cerminan akulturasi budaya yang kuat, perpaduan tradisi Tionghoa dengan nilai budaya lokal Indonesia.

Fenomena ini bukan hanya memperkaya pemahaman masyarakat tentang makna Cap Go Meh, tetapi juga menjadi magnet wisata dan simbol harmoni antar etnis di provinsi yang dihuni beragam komunitas budaya.

Secara etimologis, Cap Go Meh berarti “malam kelima belas”, penanda hari terakhir rangkaian perayaan Tahun Baru Imlek setelah kalender Tionghoa memasuki bulan pertama.

Tradisi ini telah lama menjadi bagian penting dalam budaya Tionghoa di seluruh dunia, termasuk di Indonesia, sebagai momen untuk berkumpul, bersyukur, dan memohon awal yang baik di tahun yang baru.

Di berbagai komunitas di Indonesia, Cap Go Meh dilengkapi dengan tarian naga, pertunjukan barongsai, dan ragam ritual simbolis lain yang sarat makna spiritual dan sosial.

Namun, praktik Cap Go Meh di Kalimantan Barat tampil berbeda  bukan hanya sebagai tradisi etnis tertentu, tetapi sebagai ekspresi budaya hibrida yang memadukan nilai Tionghoa dan lokal.

Fenomena ini terjadi melalui interaksi panjang antara komunitas Tionghoa dengan kelompok etnis lain seperti Melayu, Dayak, dan suku lainnya.

Salah satu bukti paling jelas dari akulturasi budaya ini terlihat dalam tradisi kuliner. Di Kalimantan Barat, terutama di Pontianak dan Singkawang, makanan yang disajikan saat Cap Go Meh tidak hanya berakar pada hidangan Tionghoa klasik seperti yuanxiao, tetapi telah bertransformasi menjadi lontong Cap Go Meh.

Hidangan yang menggabungkan nilai simbolik Tionghoa dengan citarasa khas Nusantara, yaitu lontong berkuah santan yang kaya rempah lokal.

Atribut kuliner ini mencerminkan proses adaptasi budaya yang harmonis: masyarakat Tionghoa mengadopsi bahan, teknik, dan selera lokal tanpa kehilangan esensi perayaan mereka, berkumpul bersama keluarga, bersyukur, dan merayakan kesejahteraan.

Ritual makan bersama ini justru menjadi medium yang menyatukan berbagai komunitas dalam satu meja budaya.

Selain kuliner khas, perayaan Cap Go Meh di Kalimantan Barat dipenuhi rangkaian acara menarik yang menjadi daya tarik wisata budaya penting.

Di Pontianak, sepanjang Jalan Diponegoro dan Gajah Mada, ribuan pengunjung dapat menyaksikan pawai naga, pertunjukan seni, pameran kuliner, serta festival kecil UMKM yang memeriahkan kota.

Kegiatan-kegiatan ini menjadi wahana promosi budaya sekaligus penggerak ekonomi lokal. Sementara itu, di kota yang dijuluki Kota Seribu Kelenteng, Singkawang, perayaan Cap Go Meh menjadi sangat unik dan sarat tradisi.

Selain pawai naga dan barongsai, ada ritual tatung yang menarik perhatian pengunjung lokal maupun mancanegara.

Tatung adalah tradisi spiritual yang melibatkan orang-orang yang dianggap menjalani kontak dengan roh leluhur atau kekuatan supernatural.

Dalam beberapa ritual tersebut, mereka bergaya trance dan melakukan aksi-aksi luar biasa seperti berjalan di atas benda tajam atau ditusuk dengan benda logam tanpa mengalami luka berarti fenomena yang menggambarkan kekuatan spiritual dan simbol perlindungan dari marabahaya.

Perayaan Cap Go Meh di Singkawang juga memperlihatkan bagaimana unsur budaya lokal khususnya dari suku Dayak turut masuk ke dalam praktik ritual Tionghoa.

Menurut beberapa sumber budaya, elemen pakaian, gerak, dan simbol Dayak mulai terlihat dalam beberapa atraksi Cap Go Meh, terutama di bagian pertunjukan yang menonjolkan karakter tokoh lokal dalam cerita tradisional dan legenda masyarakat Kalimantan.

Hal ini menjadi indikator dinamisnya pertukaran budaya: bukan sekadar simbol visual, tetapi sebuah integrasi yang memperkaya makna ritual itu sendiri.

Pelestarian dan pengembangan Cap Go Meh sebagai festival budaya di Kalimantan Barat tidak lepas dari peran aktif pemerintah daerah dan komunitas lokal.

Di Pontianak, pemerintah kota menegaskan bahwa penyelenggaraan Cap Go Meh tidak hanya bertujuan menjaga tradisi Tionghoa, tetapi juga sebagai upaya memperkuat kebersamaan sosial, meningkatkan pariwisata, serta membuka peluang ekonomi bagi pelaku UMKM setempat melalui promosi kuliner dan produk lokal.

Sementara di Singkawang, penyelenggaraan Cap Go Meh sering kali menjadi agenda budaya berskala nasional bahkan internasional.

Dukungan pemerintah dan masyarakat menjadikan perayaan ini sebagai bagian dari kalender pariwisata budaya, yang memberi kontribusi signifikan terhadap sektor pariwisata lokal setiap tahunnya.

Perpaduan antara tradisi Tionghoa dengan nilai budaya lokal di Cap Go Meh Kalimantan Barat memperlihatkan kekayaan budaya Indonesia yang multikultural.

Tidak hanya sekadar estetika ritual, akulturasi ini menjadi bentuk nyata dari hidup berdampingan secara harmonis antara kelompok etnis.

Kegiatan yang sebelumnya mungkin hanya dikenal di komunitas tertentu kini justru menjadi bagian dari identitas budaya provinsi yang inklusif dan menarik minat wisatawan domestik serta internasional.

Para ahli budaya menyatakan bahwa bentuk harmoni ini memperkuat kohesi sosial sekaligus memperluas makna sebuah perayaan tradisional ketika dihadapkan pada konteks masyarakat plural.

Perayaan Cap Go Meh di Kalimantan Barat, dengan segala variasi ritual dan ekspresinya, menjadi contoh bagaimana tradisi lintas budaya mampu bertransformasi tanpa kehilangan akar sejarahnya.

Perayaan Cap Go Meh di Kalimantan Barat bukan sekadar ritual agama atau perayaan suku tertentu, tetapi telah menjadi bentuk interpretasi budaya kontemporer yang melampaui batasan etnis.

Akulturasi antara tradisi Tionghoa dan budaya lokal Indonesia baik dalam aspek kuliner, pertunjukan, hingga ritual unik seperti tatung menunjukkan kekayaan identitas budaya yang kuat dan terus berkembang.

Selain memperkuat persatuan di tengah keragaman, Cap Go Meh juga menjadi daya tarik pariwisata yang penting dan penggerak ekonomi kreatif di daerah.

Dengan demikian, Cap Go Meh di Kalimantan Barat menjadi simbol penting dari keragaman budaya Indonesia, sebuah warisan budaya yang hidup, adaptif, dan merayakan pluralitas masyarakatnya.

Bagikan:

Berita terbaru!