WBYPS 2026 Soroti Literasi Keuangan dan Ketimpangan Pendidikan di Kalbar
INFOWARGEPONTIANAK.COM, PONTIANAK- Sejumlah pemuda di Kalimantan Barat menginisiasi West Borneo Youth Potential Summit (WBYPS) 2026 sebagai forum strategis untuk membahas persoalan literasi keuangan dan ketimpangan akses pendidikan.
Kegiatan ini digelar sebagai respons atas tantangan yang dinilai masih membayangi generasi muda, baik di tingkat daerah maupun nasional.
WBYPS 2026 lahir dari inisiatif pemuda yang pada fase awal perancangannya didominasi oleh anggota Youth Ranger Indonesia dan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Politeknik Negeri Pontianak.
Seiring proses persiapan, gerakan ini berkembang menjadi kolaborasi lintas organisasi dan kampus, termasuk melibatkan BEM Universitas Tanjungpura.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Merapi Politeknik Negeri Pontianak pada Rabu (11/2/2026) tersebut menjadi ruang bertemunya gagasan, diskusi, serta aksi nyata yang digagas anak muda Kalbar.
Perwakilan panitia menyampaikan bahwa WBYPS 2026 lahir dari kegelisahan terhadap rendahnya tingkat literasi keuangan di kalangan masyarakat serta belum meratanya akses pendidikan berkualitas.
“ Kami melihat isu keuangan dan pendidikan masih menjadi tantangan besar, baik di Kalimantan Barat maupun secara nasional. Melalui WBYPS 2026, kami ingin menghadirkan ruang diskusi sekaligus aksi nyata dari pemuda,” ujarnya.
Menurut panitia, literasi keuangan yang rendah berpotensi memengaruhi kemampuan generasi muda dalam mengelola keuangan pribadi maupun mengembangkan usaha.
Sementara itu, ketimpangan pendidikan dinilai masih menjadi hambatan bagi pemerataan kesempatan belajar, terutama bagi pelajar di daerah terpencil.
Melalui forum ini, pemuda diharapkan tidak hanya menjadi penonton atas berbagai persoalan tersebut, tetapi turut berperan sebagai bagian dari solusi.
Salah satu agenda utama dalam WBYPS 2026 adalah Kompetisi Pintar yang terbagi dalam dua cabang, yakni Debat Emas dan Edupitch.
Babak penyisihan telah digelar pada 31 Januari hingga 1 Februari 2026 di Universitas Tanjungpura, sedangkan babak final dan Awarding Night dilaksanakan bersamaan dengan rangkaian Future Talks.
Panitia menegaskan bahwa kompetisi ini bukan sekadar perlombaan akademik, melainkan wadah bagi generasi muda untuk mengajukan solusi yang aplikatif dan relevan dengan kondisi masyarakat.
“ Peserta tidak hanya diminta mengkritisi persoalan, tetapi juga menawarkan solusi yang dapat diimplementasikan secara nyata,” jelasnya.
Dalam cabang Debat Emas, peserta mengulas isu-isu strategis terkait literasi keuangan dan pendidikan dengan pendekatan argumentatif berbasis data.
Sementara melalui Edupitch, peserta mempresentasikan gagasan inovatif yang diharapkan mampu menjawab tantangan sosial di bidang ekonomi dan pendidikan.
Rangkaian WBYPS 2026 semakin semarak dengan kegiatan Future Talks yang menghadirkan lima pemateri dari berbagai latar belakang profesional dan akademisi.
Di antaranya adalah Ikhwan Ruslianto selaku CPO Luar Kampus dan Kepala UPA Pengembangan Karir dan Kewirausahaan Universitas Tanjungpura, Syekh Arpi Ageng selaku Founder Luar Kampus, serta Ajie Kurniawan yang hadir sebagai Tenaga Ahli Menteri UMKM RI mewakili Menteri UMKM Republik Indonesia.
Dalam sesi diskusi, Ajie Kurniawan menekankan pentingnya keterlibatan pemuda dalam memperkuat sektor ekonomi, khususnya melalui literasi keuangan dan kewirausahaan.
“ Anak muda harus menjadi motor penggerak literasi keuangan dan kewirausahaan. Dari kampus dan komunitas, perubahan besar bisa dimulai,” ungkapnya.
Sementara itu, Syekh Arpi Ageng menyoroti persoalan akses informasi pendidikan yang dinilai belum sepenuhnya merata.
“ Akses beasiswa dan peluang pengembangan diri harus semakin terbuka. Platform seperti Luar Kampus hadir untuk menjembatani kebutuhan tersebut,” katanya.
Para pembicara sepakat bahwa penguatan kapasitas generasi muda harus dimulai dari peningkatan literasi, baik dalam aspek finansial maupun pendidikan.
Tak hanya diisi diskusi, Future Talks juga menjadi panggung kreativitas mahasiswa. Sejumlah unit kegiatan mahasiswa (UKM) turut memeriahkan acara, di antaranya UKM Modelling dan Photography, UKM Japanese Club Polnep, Ikatan Mahasiswa Seni Universitas Tanjungpura, serta Sanggar Tari Cendrata Kalbar.
Kehadiran penampilan seni dan budaya tersebut menjadi simbol kolaborasi lintas minat dan bakat dalam satu ruang yang sama.
Selain itu, sejumlah pelaku UMKM lokal Pontianak juga dilibatkan dengan membuka stan usaha selama kegiatan berlangsung. Langkah ini dinilai sejalan dengan semangat pemberdayaan ekonomi lokal yang menjadi salah satu fokus pembahasan dalam forum tersebut.
Sebagai bentuk keberlanjutan program, panitia menyiapkan Volunteering Journey yang dijadwalkan berlangsung pada 14–15 Februari 2026. Program ini diperuntukkan bagi para pemenang Kompetisi Pintar agar dapat mengimplementasikan ide yang telah mereka gagas.
“ Kami ingin memastikan gagasan yang lahir tidak berhenti di atas panggung. Melalui Volunteering Journey, para pemenang akan turun langsung ke masyarakat untuk mengimplementasikan ide mereka,” tutur panitia.
Langkah ini diharapkan mampu menjembatani konsep dan praktik, sehingga solusi yang dirancang benar-benar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Melalui WBYPS 2026, para pemuda Kalimantan Barat berharap lahir generasi yang kritis, inovatif, dan solutif dalam menghadapi tantangan zaman.
Literasi keuangan dan pemerataan pendidikan dinilai sebagai fondasi penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang unggul.
WBYPS 2026 tidak hanya menjadi ajang diskusi, tetapi juga momentum konsolidasi gerakan pemuda untuk berkontribusi lebih luas dalam pembangunan daerah.
Dengan kolaborasi lintas kampus dan organisasi, forum ini menjadi contoh bagaimana anak muda dapat mengambil peran strategis dalam menjawab persoalan sosial.
Ke depan, inisiator berharap WBYPS dapat terus berlanjut sebagai agenda tahunan yang mempertemukan gagasan, aksi, dan kolaborasi demi Kalimantan Barat yang lebih maju dan berdaya saing.





