Festival Cap Go Meh Singkawang Dongkrak Perekonomian Lokal
INFOWARGEPONTIANAK.COM, SINGKAWANG – Perhelatan Festival Cap Go Meh di Kota Singkawang kembali menunjukkan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat setempat.
Tidak sekadar ritual budaya, festival tahunan ini juga berperan sebagai penggerak ekonomi lokal melalui kunjungan wisatawan, meningkatnya permintaan produk UMKM, hingga tingginya okupansi layanan akomodasi dan transportasi.
Ribuan wisatawan baik domestik maupun mancanegara memadati pusat-pusat perayaan saat festival Cap Go Meh berlangsung.
Hal ini memberikan angin segar bagi berbagai sektor ekonomi di wilayah kota seribu kelenteng tersebut.
Festival Cap Go Meh Singkawang dikenal sebagai salah satu perayaan budaya Tionghoa terbesar di Indonesia.
Selain menjadi ajang pelestarian tradisi, festival ini juga tercatat masuk dalam Top 10 Kharisma Event Nusantara yang meningkatkan daya tarik kota sebagai tujuan wisata budaya.
Keberhasilan atraksi budaya seperti pawai lampion, pertunjukan Tatung, tarian naga, dan festival kuliner telah berhasil menghadirkan gelombang besar pengunjung ke Singkawang.
Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata menyatakan bahwa festival ini mampu menarik ratusan ribu wisatawan setiap tahunnya, menciptakan dampak ekonomi yang luas bagi masyarakat lokal dan provinsi.
Peningkatan kunjungan wisatawan selama Cap Go Meh berdampak langsung pada pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Selama festival berlangsung, permintaan terhadap produk kuliner lokal, suvenir khas, kerajinan tangan, lampion, serta miniatur naga dan barongsai meningkat drastis. Banyak pedagang musiman melaporkan penjualan yang bahkan berkali lipat dibanding hari biasa.
Salah satu pedagang suvenir di pusat kota menyebut bahwa jualan miniatur naga dan barongsai yang biasanya hanya laku beberapa buah per hari, bisa terjual puluhan hingga ratusan unit saat festival.
Kondisi serupa juga dirasakan oleh penjual kuliner khas Singkawang seperti mie Singkawang, choi pan, dan kue keranjang, yang menjadi incaran wisatawan.
Tingginya kunjungan wisatawan tidak hanya dinikmati pelaku UMKM, tetapi juga industri perhotelan dan jasa transportasi lokal.
Berdasarkan data dari Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Singkawang menunjukkan bahwa tingkat okupansi kamar hotel mencapai hampir 100 persen selama puncak festival, bahkan termasuk hotel dan losmen kecil di pusat kota.
Hal ini menciptakan peluang kerja sementara, baik sebagai tenaga layanan pariwisata maupun sebagai penyedia jasa transportasi yang membantu mobilitas wisatawan di dalam kota.
Dengan demikian, perputaran uang selama Cap Go Meh tidak hanya terjadi sekali, namun dirasakan secara menyeluruh di berbagai sektor ekonomi lokal.
Selain berdampak langsung pada usaha lokal, festival Cap Go Meh juga berdampak pada industri ekonomi kreatif.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif sebelumnya menyampaikan bahwa festival ini memicu permintaan tinggi terhadap produk lokal – baik kuliner, busana tradisional, maupun barang kerajinan yang turut dibawa pulang oleh pengunjung sebagai oleh-oleh.
Dengan begitu, festival ini memberi kontribusi terhadap peningkatan pemasukan UMKM, pembukaan lapangan kerja, serta pertumbuhan permintaan produk lokal, yang secara kumulatif dapat mendorong perekonomian masyarakat Singkawang secara konsisten setiap tahunnya.
Cap Go Meh di Singkawang tidak hanya diisi atraksi budaya Tionghoa, tetapi juga menjadi momen pertunjukan toleransi dan keberagaman.
Kolaborasi berbagai komunitas etnis menjadikan kota ini sebagai simbol harmonisasi budaya yang tak hanya menarik perhatian wisatawan tetapi juga meningkatkan rasa persatuan di tengah masyarakat multietnis.
Kombinasi antara kekayaan budaya dan potensi ekonomi membuat festival ini bukan hanya sekadar perayaan budaya, tetapi juga sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi lokal yang berkelanjutan.




