INFO WARGE PONTIANAK

Menilik Potensi Desa Pesisir Lambau: Dari Melon Air Payau hingga Cita-cita Sentra Bandeng Sambas

Foto. Mahasiswa Magister PPM Fisip Untan ketika berada di area budidaya bandeng Desa Lambau. (Dok. Istimewa)

INFOWARGEPONTIANAK.COM, SAMBAS – Desa Lambau, sebuah desa pesisir di pantai utara Jawai, Sambas, Kalbar menyimpan potensi besar yang perlahan mulai digarap warganya.

Selama ini Lambau dikenal sebagai desa penghasil kelapa. Namun di balik hamparan pesisir dan lahan payau, terbentang peluang lain yang menjanjikan.

Mulai dari pengembangan perkebunan melon hingga budidaya ikan bandeng yang berpeluang menjadikan Lambau sebagai sentra perikanan pesisir di Kalimantan Barat.

Kepala Desa Lambau, Muhamad Yani Melik, mengisahkan bahwa letak geografis desanya yang berada di garis pantai memberi tantangan sekaligus peluang.

Sumber air payau yang melimpah ternyata cocok untuk pengembangan sektor pertanian tertentu dan budidaya perikanan, jika dikelola dengan pendekatan yang tepat.

“ Desa Lambau ini memang desa pesisir. Tantangannya banyak, tapi potensinya juga besar kalau dikelola dengan benar,” ujarnya saat berdiskusi dengan mahasiswa Magister Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Tanjungpura (Untan) dalam kegiatan Pengabdian Pada Masyarakat (PPM).

Yani menjelaskan, selama ini persoalan klasik yang dihadapi Desa Lambau adalah keterbatasan akses air bersih dan ancaman banjir rob yang hampir rutin terjadi setiap akhir tahun.

Meski demikian, kondisi lingkungan tersebut justru membuka peluang untuk pengembangan komoditas tertentu yang adaptif terhadap air payau.

Pada tahun lalu, pemerintah desa bersama masyarakat mencoba mengembangkan dua sektor sekaligus, yakni perkebunan melon dan budidaya ikan bandeng serta nila.

Percobaan ini menjadi langkah awal untuk melihat sejauh mana potensi desa dapat dikembangkan secara berkelanjutan.

“ Waktu itu, kami coba tanam melon dan pelihara bandeng serta nila. Awalnya semua berjalan sesuai rencana,” kenang Yani.

Tanaman melon tumbuh subur, bahkan menghasilkan buah dengan rasa manis meskipun ditanam di lahan yang dipengaruhi air laut.

Ikan bandeng dan nila juga mampu beradaptasi dengan baik di kolam-kolam budidaya yang memanfaatkan ekosistem air payau.

Namun, tantangan alam datang ketika memasuki bulan Desember. Banjir rob melanda sebagian wilayah desa.

Lahan melon yang hampir memasuki masa panen terendam air laut, menyebabkan tanaman mati dan buah yang belum siap panen terpaksa dipetik lebih awal. Sementara itu, ikan bandeng dan nila di kolam banyak yang lepas akibat luapan air.

“ Tantangan terbesar memang alam. Setiap bulan 12, Desa Lambau hampir selalu mengalami banjir besar,” tutur Yani.

Meski mengalami kegagalan panen, Yani menegaskan bahwa hal tersebut tidak mematahkan semangat warga.

Tahun ini, pengembangan melon dan budidaya bandeng kembali direncanakan dengan pendekatan yang lebih adaptif terhadap siklus alam.

Untuk sektor perikanan, solusi yang dirancang adalah melakukan panen ikan bandeng sebelum puncak banjir rob tiba.

Dengan manajemen waktu yang lebih baik, potensi kerugian dapat ditekan.

“ Bandeng ini potensinya besar. Solusinya, sebelum bulan 12, ikan harus sudah dipanen,” jelasnya.

Menurutnya, jika dikelola secara konsisten, Lambau berpeluang besar menjadi sentra penghasil ikan bandeng di wilayah pesisir Sambas.

Budidaya ini dinilai cocok dengan karakter geografis desa dan dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat.

Upaya pengembangan potensi desa tersebut mendapat dukungan dari Program Pengabdian Pada Masyarakat (PPM) Magister Fisipol Untan.

Melalui program ini, mahasiswa bersama dosen pembimbing melakukan kolaborasi langsung dengan pemerintah desa dan masyarakat.

Salah satu bentuk dukungan nyata adalah bantuan enam ribu bibit ikan bandeng dan nila yang disalurkan kepada masyarakat.

Bantuan ini dinilai sangat membantu dalam mendorong keberlanjutan budidaya perikanan di Desa Lambau.

“ Mahasiswa PPM benar-benar membaca kebutuhan desa. Bantuan bibit ikan ini sangat membantu,” kata Yani.

Selain perikanan, program PPM juga menyasar sektor pemberdayaan keluarga. Mahasiswa berkolaborasi dengan PKK Desa Lambau untuk mengembangkan tanaman obat keluarga (toga).

Ratusan bibit tanaman seperti jahe, bawang dayak, jerangau, dan berbagai jenis toga lainnya dibagikan kepada warga.

Tak hanya itu, mahasiswa PPM juga membantu pembuatan 15 plang penanda RT, yang diharapkan dapat mendukung tertib administrasi dan memudahkan pelayanan di tingkat lingkungan.

Dosen Pembimbing PPM Magister Fisipol Untan, Prof Dr Fatmawati, menilai program yang dijalankan mahasiswa di Desa Lambau telah sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Dia menjelaskan, sebelum terjun ke lapangan, mahasiswa terlebih dahulu melakukan koordinasi dengan kepala desa untuk memetakan potensi dan permasalahan yang ada.

“ Terdapat tiga program utama, yaitu bantuan bibit ikan bandeng dan nila, pengembangan tanaman toga bersama PKK, serta pembuatan plang penanda RT. Semua dirancang berdasarkan kebutuhan desa,” jelasnya.

Menurut Fatmawati, tujuan utama PPM adalah mengimplementasikan ilmu yang diperoleh di bangku kuliah sekaligus melatih mahasiswa agar mampu berkontribusi nyata melalui ide, gagasan, dan tindakan yang berdampak langsung bagi masyarakat.

Salah satu mahasiswa PPM, Wira, melihat potensi besar Desa Lambau untuk fokus pada pengembangan ikan bandeng.

Ia menilai kondisi geografis desa sangat mendukung budidaya bandeng, dengan tantangan utama yang masih dapat diantisipasi melalui manajemen panen.

“ Kalau budidaya bandeng ini berhasil, Lambau bisa menjadi sentra bandeng. Bahkan ke depan tidak hanya menjual bandeng segar, tapi juga produk olahan seperti bandeng presto,” ujarnya.

Menurut Wira, pengembangan produk olahan bandeng dapat menjadi peluang ekonomi baru, sekaligus memperkuat peran Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).

Jika dikelola dengan baik dan memiliki pasar yang luas, bandeng presto Lambau berpotensi menjadi oleh-oleh khas baru Kalimantan Barat.

“ Kalau Lambau punya bandeng presto, ini bisa jadi sumber pemasukan BUMDes. Bahkan bisa menjadi oleh-oleh khas Kalbar bagi wisatawan,” tutupnya.

Pengembangan potensi Desa Lambau menunjukkan bahwa desa pesisir tidak selalu identik dengan keterbatasan.

Dengan kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, perguruan tinggi, dan dukungan lintas sektor, potensi lokal dapat diolah menjadi kekuatan ekonomi baru.

Ke depan, Desa Lambau diharapkan mampu bangkit sebagai desa pesisir yang mandiri, adaptif terhadap tantangan alam, serta dikenal sebagai penghasil bandeng dan komoditas unggulan lainnya dari pantai utara Sambas.

Bagikan:

Berita terbaru!