INFO WARGE PONTIANAK

Sempat Dikabarkan Hilang, Bocah 4 Tahun di Sanggau Ditemukan Tak Bernyawa

Foto. Tim SAR Gabungan temukan jasad korban Kenzo Alvaro mengapung di Sungai Sekayam (Dok. Basarnas)

INFOWARGEPONTIANAK.COM, SANGGAU – Kenzo Alfaro, bocah 4 tahun yang sebelumnya dilaporkan hilang diduga tenggelam di Sungai Sekayam, Sanggau, ditemukan tak bernyawa oleh Tim SAR Gabungan.

Sebelumnya, korban dinyatakan hilang sejak Selasa (3/2/2026), ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Kamis (5/2/2026) sore di aliran Sungai Sekayam, tepatnya di Dusun Jemongko, Desa Kuala Dua, Kecamatan Kembayan.

Penemuan ini sekaligus mengakhiri operasi pencarian yang telah berlangsung selama beberapa hari dengan melibatkan berbagai unsur SAR dan masyarakat setempat.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Pontianak, I Made Junetra, menjelaskan bahwa korban ditemukan sekitar pukul 14.50 WIB dalam posisi mengapung di permukaan sungai.

“ Korban berhasil ditemukan oleh tim SAR gabungan dalam keadaan meninggal dunia. Lokasinya sekitar 240 meter ke arah hilir dari titik awal korban diduga terjatuh ke sungai,” ujar I Made Junetra dalam keterangan resminya.

Penemuan tersebut terjadi saat tim SAR melakukan penyisiran lanjutan dengan memperluas area pencarian, menyusul kondisi arus Sungai Sekayam yang cukup deras dalam beberapa hari terakhir.

Setelah ditemukan, jenazah korban langsung dievakuasi oleh tim SAR gabungan menggunakan perahu karet.

Proses evakuasi berlangsung dengan lancar meski medan sungai cukup menantang akibat arus dan kondisi perairan yang keruh.

Jenazah Kenzo Alfaro kemudian dibawa menuju rumah duka dan diserahkan kepada pihak keluarga untuk proses selanjutnya.

“ Kami menyerahkan jenazah kepada keluarga korban. Selanjutnya penanganan sepenuhnya menjadi kewenangan pihak keluarga,” tambah Junetra.

Peristiwa bermula pada Selasa (3/2/2026) sekitar pukul 14.00 WIB. Saat itu, korban diketahui keluar rumah dan bermain di sekitar bantaran Sungai Sekayam, tidak jauh dari tempat tinggalnya.

Beberapa warga sempat melihat korban berada di tepi sungai. Namun, hingga sore hari korban tidak kembali ke rumah.

Keluarga yang khawatir kemudian melakukan pencarian bersama warga sekitar, sebelum akhirnya melaporkan kejadian tersebut kepada aparat desa dan pihak berwenang.

Dugaan awal menyebutkan korban terjatuh ke sungai dan terseret arus. Pencarian pun dilakukan secara manual oleh warga setempat sebelum tim SAR tiba di lokasi.

Menindaklanjuti laporan tersebut, Kantor SAR Pontianak mengerahkan personel dari Pos SAR Sintang ke lokasi kejadian. Operasi pencarian melibatkan unsur gabungan dari berbagai instansi, diantaranya Kantor SAR Pontianak, Pos SAR Sintang, BPBD, Relawan, serta masyarakat sekitar.

Pencarian dilakukan dengan metode penyisiran permukaan sungai, pemantauan arus, serta pengamatan visual di sepanjang bantaran Sungai Sekayam.

“ Kami mengerahkan perahu karet, personel penyelam, serta melakukan koordinasi dengan warga untuk memaksimalkan pencarian,” kata Junetra.

Dengan ditemukannya korban, operasi SAR resmi dinyatakan selesai. Seluruh unsur SAR gabungan kemudian dikembalikan ke satuan masing-masing.

“ Setelah korban ditemukan, operasi SAR kami tutup dan seluruh personel dikembalikan ke unit masing-masing,” tegas Junetra.

Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam proses pencarian, termasuk masyarakat yang turut membantu sejak hari pertama.

Peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya pengawasan terhadap anak-anak, terutama saat berada di lingkungan yang berisiko seperti sungai, danau, atau perairan terbuka lainnya.

I Made Junetra mengimbau para orang tua untuk meningkatkan kewaspadaan dan pengawasan terhadap aktivitas anak-anak.

“ Kami mengimbau kepada seluruh orang tua agar selalu mengawasi anak-anaknya saat bermain, khususnya di area yang berpotensi membahayakan seperti sungai. Langkah pencegahan sangat penting untuk menghindari kejadian serupa,” ujarnya.

Peristiwa tenggelamnya Kenzo Alfaro meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan masyarakat setempat.

Warga Dusun Jemongko turut menyampaikan belasungkawa dan berharap kejadian ini menjadi pelajaran bersama agar keselamatan anak-anak lebih diperhatikan.

Kasus ini juga menambah daftar kecelakaan air yang melibatkan anak-anak di wilayah pedesaan, terutama di daerah yang memiliki akses langsung ke sungai tanpa pembatas pengaman.

Pemerintah desa diharapkan dapat meningkatkan upaya mitigasi risiko, seperti pemasangan tanda peringatan di area rawan serta edukasi keselamatan bagi warga, khususnya anak-anak.

Bagikan:

Berita terbaru!