INFO WARGE PONTIANAK

Warga Pontianak Antusias Ikuti Gotong-Royong, Aspirasi dan Lingkungan Terjaga

Foto. Warga di Kelurahan Pal Lima bahu-membahu membersihkan lingkungan.

PONTIANAK – Suasana Taman Pal Lima di Jalan Karet, Pontianak Barat, Minggu pagi ini terlihat berbeda. Suara sapu yang menyapu dedaunan, cangkul yang menggali tanah, hingga obrolan ringan warga mengisi udara pagi.

Beberapa warga terlihat membersihkan parit di bahu jalan, mengangkat sisa-sisa daun yang mengendap di comberan, sementara yang lain mengangkut sampah ke truk pengangkut.

Kegiatan itu merupakan bagian dari gotong-royong yang melibatkan warga dan unsur Pemerintah Kota (Pemkot) Pontianak. Tidak hanya di Taman Pal Lima, agenda bersih-bersih ini digelar serentak di lima titik lainnya yang tersebar di enam kecamatan se-Kota Pontianak.

Ketua RT 06 RW 06, Kelurahan Pallima, Zainal Arifin, menyatakan bahwa kerja bakti rutin ini sangat penting untuk menjaga tradisi sosial yang sudah lama ada.

“ Kerja bakti rutin ini adalah kegiatan yang luar biasa. Tradisi ini harus tetap dipertahankan dan dikembangkan ke depan,” ujar Zainal.

Menurutnya, keterlibatan warga dalam kerja bakti ini menunjukkan semangat kebersamaan yang sudah mengakar di masyarakat. Kawasan tempat tinggalnya yang dulunya merupakan kampung, kini terus mempertahankan nilai gotong-royong sebagai bagian dari identitas sosial warga.

“ Kita orang kampung memang terbiasa bekerja bersama. Dengan adanya dukungan dari pemerintah kota berupa fasilitas dan peralatan, kegiatan ini tentu jadi lebih efektif dan menyenangkan,” tambah Zainal.

Selain itu, Zainal juga menyoroti perubahan wilayahnya yang akan menjadi jalur strategis setelah Jembatan Kapuas III beroperasi.

Arus lalu lintas dari Mempawah, Sambas, dan kota lain diperkirakan akan melintasi kawasan tersebut. Ia berharap lingkungan tetap tertata rapi, bersih, dan indah agar menjadi kesan positif bagi pengunjung dan masyarakat dari luar kota.

Lurah Pal Lima, Deni Saputra, menjelaskan bahwa kegiatan gotong-royong tidak hanya sekadar membersihkan lingkungan, tetapi juga menjadi media silaturahmi antara warga dan pemerintah.

“ Ini kesempatan bagi warga untuk berinteraksi langsung dengan pemerintah. Suasana lebih cair dibanding pertemuan formal di kantor. Warga bisa menyampaikan aspirasi terkait lingkungan tempat tinggal mereka,” kata Deni.

Kegiatan ini, menurut Deni, sekaligus memperkuat hubungan sosial antarwarga dan menghidupkan kembali kearifan lokal berupa budaya kerja bersama.

Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Kota Pontianak, Ismail, menegaskan bahwa gotong-royong merupakan bagian dari program unggulan Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, dan Wakil Wali Kota, Bahasan.

“ Kegiatan gotong-royong ini sudah menjadi program rutin. Selain menjaga kebersihan lingkungan, kegiatan ini juga mengangkat kembali budaya gotong-royong yang selama ini menjadi kekuatan sosial masyarakat Pontianak,” ujarnya.

Ismail menambahkan, Pemkot Pontianak selalu mendorong kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) untuk hadir dan ikut berbaur dengan warga. Kehadiran OPD di lapangan dianggap penting untuk menciptakan komunikasi yang lebih natural dan langsung.

“ Dengan hadir di lokasi, OPD bisa langsung mendengar aspirasi warga dan merespon sesuai kewenangan yang ada,” jelasnya.

Selama gotong-royong di Kelurahan Pallima, sejumlah aspirasi warga berhasil disampaikan langsung kepada OPD terkait yang hadir.

Mulai dari permintaan perbaikan fasilitas umum, pengaturan drainase, hingga ide-ide terkait penataan taman. Aspirasi tersebut akan dikaji dan ditindaklanjuti secara bertahap.

“ Tadi pagi ada beberapa aspirasi yang disampaikan warga. Kebetulan OPD hadir di tempat, sehingga bisa langsung didengar dan nanti akan kita tindaklanjuti dengan langkah-langkah positif,” kata Ismail.

Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana pembersihan lingkungan, tetapi juga sarana edukasi sosial. Warga belajar untuk peduli lingkungan, berinteraksi dengan pemerintah, dan menumbuhkan rasa memiliki terhadap wilayahnya.

Ismail menekankan bahwa gotong-royong harus dipandang lebih dari sekadar ritual rutin. Kegiatan ini diharapkan menjadi budaya bersama yang terus hidup di tengah masyarakat.

“ Harapannya, gotong-royong ini menjadi bagian dari budaya kita, bukan hanya sekadar kerja bakti. Warga bisa ikut berkontribusi langsung dalam menjaga lingkungan sekaligus membangun kota secara partisipatif,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa Pemkot Pontianak berkomitmen untuk menjaga keberlanjutan program ini. Setiap kegiatan akan dirancang agar warga merasa terlibat dan memiliki peran penting dalam pembangunan kota.

Menurut Deni Saputra, kegiatan seperti ini sekaligus menghidupkan kearifan lokal. Gotong-royong menjadi cara masyarakat Pontianak mengekspresikan solidaritas, saling membantu, dan mempererat hubungan antarwarga.

“ Kearifan lokal ini penting. Di tengah modernisasi, semangat kerja bersama harus tetap dijaga agar tidak hilang,” ujar Deni.

Kolaborasi antara pemerintah dan warga, lanjutnya, juga menjadi kunci sukses kegiatan ini. Warga menyediakan tenaga dan ide, sementara pemerintah menyediakan dukungan logistik dan fasilitas. Hasilnya, lingkungan lebih bersih, rapi, dan masyarakat lebih dekat dengan pemerintah.

Kegiatan gotong-royong di Taman Pallima dan lima titik lain se-Kota Pontianak terbukti memberikan dampak positif. Lingkungan lebih bersih, saluran drainase lancar, taman tertata rapi, dan interaksi sosial meningkat. Warga juga merasa lebih memiliki tanggung jawab terhadap wilayah mereka.

Zainal menambahkan, kegiatan ini membuat warga merasa dihargai dan didengar. “Kami senang bisa berpartisipasi. Selain lingkungan lebih bersih, kita juga bisa menyampaikan ide dan aspirasi. Ini membuat kita lebih dekat dengan pemerintah,” kata Zainal.

Gotong-royong yang digelar Pemkot Pontianak bersama warga bukan sekadar membersihkan lingkungan. Kegiatan ini menjadi wadah interaksi sosial, sarana menyerap aspirasi masyarakat, sekaligus menumbuhkan budaya kerja sama dan kepedulian lingkungan.

Dengan dukungan pemerintah dan partisipasi warga, tradisi sosial ini diharapkan terus berkembang dan menjadi bagian dari identitas Kota Pontianak.

“ Gotong-royong bukan hanya membersihkan sampah, tapi membersihkan hati dan mempererat kebersamaan,” pungkas Ismail.

Bagikan:

Berita terbaru!