INFOWARGEPONTIANAK.COM, PONTIANAK- Pemerintah Kota Pontianak kembali menggenjot pengembangan kawasan tepian Sungai Kapuas melalui lanjutan proyek waterfront yang menjadi salah satu ikon penataan kota.
Tahun 2026, pembangunan difokuskan pada segmen Gang Kamboja hingga Gang H Mursyid, sebagai bagian dari upaya memperkuat identitas kota sekaligus membuka peluang ekonomi baru berbasis ruang publik.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menegaskan bahwa proyek ini bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan bagian dari visi jangka panjang dalam menata wajah kota yang modern namun tetap berakar pada budaya lokal.
Program waterfront sendiri telah dimulai sejak 2014 dan terus dikembangkan secara bertahap.
“ Penataan waterfront ini sudah menjadi program prioritas sejak lama. Kita lanjutkan secara berkesinambungan karena ini akan menjadi wajah Kota Pontianak ke depan,” ujarnya.
Pembangunan tahap lanjutan ini dirancang sebagai proyek multiyears selama tiga tahun, dengan alokasi anggaran awal sebesar Rp20 miliar dari APBD Kota Pontianak.
Skema ini memungkinkan pengerjaan dilakukan secara bertahap namun terarah, menyesuaikan kemampuan fiskal daerah sekaligus menjaga kualitas pembangunan.
Konsep Baru: Estetika, Fungsi, dan Kearifan Lokal
Dalam pengembangannya, kawasan waterfront segmen baru ini akan mengusung konsep yang tidak hanya menitikberatkan pada keindahan visual, tetapi juga fungsi sosial dan ekonomi.
Meskipun mengadopsi keberhasilan penataan di kawasan Parit Besar, desain terbaru akan menghadirkan elemen yang lebih variatif dan inovatif.
Edi menjelaskan bahwa kawasan ini akan dirancang menjadi ruang publik multifungsi, mulai dari area rekreasi keluarga, fasilitas olahraga ringan, hingga titik-titik swafoto yang menarik bagi generasi muda.
“ Konsepnya tetap ramah lingkungan, estetis, dan punya nilai budaya. Kita ingin ada spot-spot yang unik, termasuk menghadirkan kembali elemen khas seperti Meriam Karbit sebagai simbol tradisi lokal,” jelasnya.
Selain itu, kawasan ini juga akan terintegrasi dengan ruang terbuka hijau yang direncanakan di bawah Jembatan Duplikasi Kapuas I.
Integrasi ini diharapkan mampu menciptakan konektivitas ruang publik yang nyaman dan berkelanjutan, sekaligus menjadi paru-paru kota di tengah perkembangan urbanisasi.
Dampak Ekonomi dan Pariwisata
Pengembangan waterfront tidak hanya bertujuan mempercantik kota, tetapi juga menjadi strategi dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis pariwisata.
” Dengan penataan yang baik, kita yakin kawasan tepian Sungai Kapuas berpotensi menjadi destinasi unggulan yang mampu menarik wisatawan lokal maupun luar daerah,” pungkasnya.
Kehadiran ruang publik yang representatif akan membuka peluang bagi pelaku UMKM, pedagang kaki lima, hingga komunitas kreatif untuk beraktivitas dan berkembang.
Aktivitas ekonomi yang tumbuh di sekitar kawasan ini diharapkan mampu menciptakan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian masyarakat.
Tidak hanya itu, proyek ini juga diprediksi akan membuka lapangan kerja baru, baik selama proses pembangunan maupun setelah kawasan tersebut beroperasi. Mulai dari sektor konstruksi, jasa, hingga ekonomi kreatif, semua berpotensi merasakan dampaknya.
Penataan Kawasan dan Sosialisasi Warga
Dalam prosesnya, pemerintah kota menegaskan bahwa pendekatan yang dilakukan tetap mengedepankan komunikasi dengan masyarakat. Saat ini, proyek masih berada pada tahap perencanaan teknis, termasuk penyusunan desain detail dan pemetaan area yang akan ditata.
Sosialisasi kepada warga yang berada di sekitar lokasi proyek akan segera dilakukan, terutama bagi mereka yang bangunannya berada di luar garis sempadan sungai. Meski demikian, pemerintah memastikan bahwa kebutuhan pembebasan lahan relatif minim.
“ Secara umum tidak banyak lahan yang harus dibebaskan. Namun, jika ada bangunan yang terdampak, kita siapkan skema kompensasi berupa perbaikan atau penyesuaian sesuai desain,” kata Edi.
Pendekatan ini diharapkan mampu meminimalisir konflik sekaligus memastikan bahwa proses penataan berjalan lancar tanpa mengabaikan kepentingan masyarakat setempat.
Kolaborasi Pendanaan dan Dukungan Pusat
Menyadari besarnya skala proyek, Pemerintah Kota Pontianak tidak hanya mengandalkan APBD sebagai sumber pembiayaan. Dukungan dari pemerintah provinsi hingga pusat dinilai sangat penting untuk mempercepat penyelesaian proyek secara menyeluruh.
Edi mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan koordinasi dengan berbagai instansi, termasuk Balai Besar Wilayah Sungai Kapuas, DPR RI khususnya Komisi V, serta kementerian terkait. Respon yang diterima cukup positif, meskipun tantangan efisiensi anggaran di tingkat pusat masih menjadi kendala.
“Kita berharap ada sinergi pendanaan, karena Sungai Kapuas ini juga berada dalam kewenangan pemerintah pusat. Kalau semua pihak terlibat, pembangunan bisa lebih cepat selesai,” ungkapnya.
Keamanan dan Peran Masyarakat
Selain fokus pada pembangunan, pemerintah kota juga menaruh perhatian pada aspek keamanan dan keberlanjutan fasilitas. Desain kawasan akan dibuat sedemikian rupa agar tahan terhadap kerusakan, serta meminimalisir potensi vandalisme dan pencurian.
Salah satu langkah yang direncanakan adalah pemasangan sistem pengawasan seperti CCTV di titik-titik strategis. Namun, Edi menekankan bahwa keberhasilan menjaga fasilitas publik tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga kesadaran masyarakat.
“ Kita bisa bangun sebaik mungkin, tapi kalau tidak dijaga bersama, pasti akan cepat rusak. Jadi peran masyarakat sangat penting untuk merawat fasilitas ini,” tegasnya.
Nilai Tambah: Identitas Kota dan Ruang Hidup Baru
Lebih dari sekadar proyek infrastruktur, pengembangan waterfront ini juga memiliki nilai strategis dalam membangun identitas Kota Pontianak sebagai kota tepian sungai yang modern dan berdaya saing.
Sungai Kapuas sebagai sungai terpanjang di Indonesia menjadi aset besar yang jika dikelola dengan baik dapat menjadi pusat aktivitas kota.
Ke depan, kawasan waterfront diharapkan tidak hanya menjadi tempat bersantai, tetapi juga ruang interaksi sosial, panggung budaya, hingga pusat kegiatan komunitas.
Festival, pertunjukan seni, hingga kegiatan olahraga air berpotensi digelar secara rutin untuk menghidupkan kawasan ini.
” Dengan pendekatan yang terintegrasi antara estetika, fungsi, ekonomi, dan budaya, proyek waterfront ini diyakini mampu memberikan dampak jangka panjang bagi Kota Pontianak,” tegasnya.
Tidak hanya memperindah kota, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup masyarakat serta memperkuat daya tarik daerah di mata wisatawan dan investor.
Jika berjalan sesuai rencana, segmen Gang Kamboja hingga H Mursyid akan menjadi babak baru dalam transformasi wajah Kota Pontianak sebuah ruang publik yang hidup, inklusif, dan membanggakan bagi seluruh warganya.
