INFOWARGEPONTIANAK.COM, PONTIANAK – Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, mengimbau masyarakat agar tidak melakukan panic buying atau pembelian kebutuhan pokok secara berlebihan.
Ia memastikan bahwa ketersediaan bahan pangan di Kota Pontianak hingga saat ini masih dalam kondisi aman dan mencukupi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Imbauan tersebut disampaikan menyusul meningkatnya kekhawatiran sebagian masyarakat terkait potensi kenaikan harga bahan pokok menjelang dan selama bulan Ramadan. Namun demikian, Pemerintah Kota Pontianak menegaskan bahwa distribusi dan stok bahan pangan tetap terjaga.
Menurut Edi, pemerintah daerah melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Pontianak secara rutin melakukan pemantauan terhadap harga kebutuhan pokok di pasar. Pemantauan tersebut dilakukan setiap hari secara real time untuk memastikan stabilitas harga dan ketersediaan barang di pasaran.
“Saya sudah mengarahkan Tim Pengendali Inflasi Daerah Kota Pontianak untuk terus memantau harga kebutuhan pokok setiap hari secara real time. Dengan begitu kita bisa segera mengambil langkah jika terjadi kenaikan harga,” ujarnya, Minggu (8/3/2026).
Selain melakukan pemantauan, pemerintah juga menyiapkan langkah intervensi melalui pelaksanaan operasi pasar jika diperlukan. Operasi pasar tersebut bertujuan menjaga stabilitas harga sekaligus memastikan masyarakat tetap dapat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang wajar.
Beberapa komoditas yang menjadi fokus pengawasan antara lain beras, gula, tepung, dan telur. Komoditas tersebut termasuk bahan pokok yang paling banyak dibutuhkan masyarakat, terutama selama bulan Ramadan.
“Kita juga melakukan operasi pasar untuk komoditas penting seperti beras, gula, tepung, dan telur. Tujuannya agar harga tetap terkendali dan inflasi di Kota Pontianak tidak meningkat,” jelasnya.
Edi juga menegaskan bahwa pemerintah akan terus melakukan pengawasan terhadap distribusi bahan pokok di pasaran. Hal ini dilakukan untuk mencegah adanya praktik penimbunan barang oleh pihak tertentu yang dapat menyebabkan kelangkaan dan kenaikan harga.
Menurutnya, praktik penimbunan bahan pokok merupakan tindakan yang merugikan masyarakat karena dapat memicu gejolak harga di pasar.
“Jangan sampai ada pihak yang sengaja menimbun kebutuhan pokok untuk kepentingan tertentu. Hal seperti ini akan terus kita awasi bersama pihak terkait,” katanya.
Berdasarkan hasil rapat koordinasi dengan sejumlah pihak terkait, pemerintah memastikan bahwa stok bahan pokok di Kota Pontianak masih dalam kondisi cukup. Persediaan tersebut berasal dari berbagai sumber, termasuk dari Badan Urusan Logistik (Bulog) serta jaringan distributor dan agen yang beroperasi di wilayah Pontianak.
Dengan ketersediaan stok tersebut, masyarakat diharapkan tidak perlu khawatir terhadap kemungkinan terjadinya kelangkaan bahan pangan.
“Stok dari Bulog maupun dari para distributor dan agen di daerah masih tersedia. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir,” tambah Edi.
Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah daerah terus melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk pelaku usaha dan distributor, untuk memastikan rantai pasok bahan pangan tetap berjalan lancar.
Koordinasi tersebut penting untuk mengantisipasi berbagai kemungkinan yang dapat mempengaruhi ketersediaan maupun harga bahan pokok di pasaran.
Selain faktor distribusi lokal, Edi juga menyinggung kondisi ekonomi global yang berpotensi mempengaruhi harga sejumlah komoditas, terutama energi. Ia menyebut situasi geopolitik internasional, seperti konflik di kawasan Timur Tengah, dapat berdampak terhadap harga energi dunia, termasuk harga bahan bakar minyak (BBM).
Jika harga energi global mengalami kenaikan, hal tersebut dapat mempengaruhi biaya distribusi barang yang pada akhirnya berpotensi berdampak pada harga kebutuhan pokok di tingkat konsumen.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa pemerintah daerah tetap mengikuti kebijakan yang ditetapkan oleh pemerintah pusat dalam mengelola dampak tersebut.
“Kondisi geopolitik global tentu bisa berdampak pada harga energi, termasuk BBM. Namun untuk kebijakan terkait energi kita tetap mengikuti kebijakan pemerintah pusat,” ujarnya.
Karena itu, Edi kembali mengingatkan masyarakat agar tetap berbelanja secara bijak sesuai dengan kebutuhan. Ia menilai perilaku belanja yang berlebihan justru dapat menciptakan kepanikan di masyarakat serta memicu kenaikan harga barang di pasar.
Menurutnya, stabilitas harga bahan pokok tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi masyarakat untuk menjaga situasi pasar tetap kondusif.
“Kita jangan sampai melakukan panic buying atau belanja secara berlebihan. Justru itu akan membuat situasi pasar menjadi tidak nyaman dan bisa memicu kenaikan harga,” pungkasnya.
Pemerintah Kota Pontianak berharap dengan adanya pengawasan harga yang ketat, operasi pasar, serta dukungan masyarakat untuk berbelanja secara bijak, stabilitas harga bahan pokok dapat tetap terjaga selama bulan Ramadan hingga menjelang Hari Raya Idul Fitri.
