INFOWARGEPONTIANAK.COM, SUNGAI RAYA- Tradisi pembakaran naga dalam rangkaian perayaan Cap Go Meh kembali digelar di Kabupaten Kubu Raya dengan suasana meriah dan kondusif.
Sebanyak 40 perkumpulan naga dari Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya ambil bagian dalam ritual budaya yang berlangsung di Komplek Pemakaman Yayasan Bhakti Suci, Jalan Adisucipto KM 8, Desa Parit Baru, Kecamatan Sungai Raya, Rabu (4/3/2026).
Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 13.00 WIB tersebut menarik perhatian ribuan masyarakat. Diperkirakan sekitar 3.000 penonton memadati area lokasi untuk menyaksikan secara langsung prosesi pembakaran naga yang menjadi salah satu tradisi penting dalam perayaan Cap Go Meh bagi masyarakat Tionghoa.
Rangkaian kegiatan berlangsung hingga malam hari dan berakhir sekitar pukul 21.00 WIB dengan situasi yang tetap aman dan tertib berkat pengamanan dari aparat kepolisian.
Ritual pembakaran naga memiliki makna spiritual yang mendalam dalam tradisi masyarakat Tionghoa. Prosesi ini merupakan penutup dari rangkaian perayaan Cap Go Meh yang telah berlangsung sejak Tahun Baru Imlek.
Dalam kepercayaan masyarakat Tionghoa, naga yang digunakan dalam pertunjukan barongsai atau naga panjang sebelumnya telah melalui ritual “buka mata”, yakni prosesi sakral yang dipercaya sebagai simbol “menghidupkan” naga dengan menghadirkan ruh atau energi spiritual.
Setelah menjalankan perannya dalam berbagai kegiatan perayaan Cap Go Meh, naga-naga tersebut kemudian “dikembalikan” ke alam asalnya melalui prosesi pembakaran.
Ritual ini melambangkan kembalinya roh naga ke langit setelah menjalankan tugasnya membawa keberuntungan serta membersihkan jalan dari hal-hal buruk selama perayaan berlangsung.
Prosesi pembakaran naga pun menjadi momen yang paling ditunggu masyarakat karena memiliki nilai budaya dan spiritual yang tinggi.
Sebelum memasuki prosesi pembakaran, puluhan naga dari berbagai perkumpulan terlebih dahulu ditampilkan dalam sebuah rangkaian atraksi budaya.
Setiap kelompok menampilkan naga dengan warna dan bentuk yang berbeda, mencerminkan identitas masing-masing perkumpulan.
Atraksi tersebut menjadi tontonan menarik bagi masyarakat yang hadir. Sorak sorai penonton kerap terdengar ketika para pemain naga memperlihatkan gerakan dinamis dan kompak saat menggerakkan tubuh naga panjang yang menjadi simbol kekuatan, keberuntungan, dan kemakmuran dalam budaya Tionghoa.
Setelah seluruh rangkaian pertunjukan selesai, naga-naga tersebut kemudian dikumpulkan untuk menjalani prosesi pembakaran sebagai bagian akhir dari tradisi Cap Go Meh.
Untuk memastikan kegiatan berlangsung dengan aman dan tertib, Polres Kubu Raya menerjunkan sejumlah personel guna melakukan pengamanan di lokasi kegiatan. Pengamanan dilakukan sejak awal acara hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai.
Kapolres Kubu Raya AKBP Kadek Ary Mahardika melalui Kasubsi Penmas Polres Kubu Raya Aiptu Ade menjelaskan bahwa kehadiran aparat kepolisian bertujuan memberikan rasa aman bagi masyarakat yang mengikuti maupun menyaksikan kegiatan budaya tersebut.
“ Polres Kubu Raya melaksanakan pengamanan kegiatan ritual pembakaran naga dalam rangka perayaan Cap Go Meh 2026 untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan aman, tertib, dan kondusif,” ujar Ade, Kamis (5/3/2026).
Pengamanan yang dilakukan meliputi pengaturan arus lalu lintas di sekitar lokasi kegiatan, penjagaan di titik-titik strategis, hingga pengawasan terhadap kerumunan masyarakat yang hadir.
Selain itu, personel kepolisian juga berkoordinasi dengan panitia serta pihak terkait guna memastikan jalannya kegiatan sesuai dengan rencana.
Ade menambahkan bahwa keterlibatan kepolisian dalam pengamanan kegiatan budaya merupakan bagian dari pelayanan kepada masyarakat.
Polri memiliki tanggung jawab untuk menjaga stabilitas keamanan sehingga berbagai kegiatan masyarakat dapat berlangsung dengan nyaman.
Menurutnya, kegiatan keagamaan maupun budaya yang melibatkan banyak orang memerlukan pengamanan agar potensi gangguan keamanan dapat dicegah sejak dini.
“ Kami hadir untuk memastikan kegiatan masyarakat, khususnya tradisi budaya seperti Cap Go Meh ini dapat berlangsung dengan aman. Dengan pengamanan yang dilakukan, masyarakat dapat mengikuti seluruh rangkaian kegiatan dengan nyaman dan situasi kamtibmas tetap terjaga,” jelasnya.
Perayaan Cap Go Meh di Kalimantan Barat dikenal sebagai salah satu yang terbesar di Indonesia. Selain di Kota Pontianak dan Singkawang, sejumlah daerah lain seperti Kabupaten Kubu Raya juga rutin menggelar berbagai rangkaian kegiatan budaya yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat Tionghoa.
Ritual pembakaran naga menjadi salah satu simbol kuat dari keberagaman budaya yang hidup berdampingan di Kalimantan Barat. Tradisi ini tidak hanya diikuti oleh masyarakat Tionghoa, tetapi juga disaksikan oleh masyarakat dari berbagai latar belakang budaya dan agama.
Kehadiran ribuan warga yang datang untuk menyaksikan prosesi tersebut menunjukkan tingginya antusiasme masyarakat terhadap kegiatan budaya yang telah berlangsung secara turun-temurun.
Hingga seluruh rangkaian kegiatan selesai pada malam hari, situasi di lokasi tetap aman dan kondusif. Tidak ada gangguan keamanan yang berarti selama pelaksanaan acara berlangsung.
Keberhasilan pengamanan ini tidak lepas dari kerja sama antara aparat kepolisian, panitia kegiatan, serta masyarakat yang turut menjaga ketertiban selama acara berlangsung.
Tradisi pembakaran naga dalam perayaan Cap Go Meh pun kembali menjadi momen penting yang memperlihatkan kekayaan budaya sekaligus semangat toleransi yang hidup di tengah masyarakat Kalimantan Barat.
Selain sebagai ritual spiritual, kegiatan ini juga menjadi daya tarik budaya yang mampu mempererat hubungan antar masyarakat serta menjaga warisan tradisi yang telah ada sejak lama.
