Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Kulminasi Matahari dan Lebaran, Perpaduan Unik yang Pikat Turis Asing

Foto. Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono bersama para siswa SD ikut mendirikan telur pada momen Kulminasi Matahari. (Dok Prokopim)

INFOWARGEPONTIANAK.COM, PONTIANAK- Fenomena kulminasi matahari kembali menjadi daya tarik istimewa di Tugu Khatulistiwa, terlebih karena bertepatan dengan suasana Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriyah.

Momen langka yang dikenal sebagai “hari tanpa bayangan” ini menghadirkan pengalaman unik bagi masyarakat maupun wisatawan yang hadir di Kota Pontianak.

Kulminasi matahari merupakan peristiwa ketika posisi matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa. Pada saat itu, sinar matahari jatuh tegak lurus ke permukaan bumi, sehingga bayangan benda tampak sangat pendek bahkan seolah menghilang.

Fenomena ini terjadi dua kali dalam setahun, yakni sekitar 21–23 Maret dan 21–23 September. Tahun ini, peringatan kulminasi terasa lebih istimewa karena berlangsung di tengah nuansa Lebaran.

Sejak pagi hingga menjelang siang, kawasan Tugu Khatulistiwa dipadati warga yang ingin menyaksikan secara langsung momen puncak kulminasi.

Selain menjadi tontonan menarik, kegiatan ini juga dimanfaatkan sebagai sarana edukasi. Sejumlah siswa sekolah dasar tampak antusias mengikuti berbagai eksperimen sederhana, salah satunya mencoba mendirikan telur secara tegak tanpa penopang.

Didampingi Wali Kota Edi Rusdi Kamtono serta tamu undangan, para siswa mencoba berbagai cara agar telur bisa berdiri. Sorak gembira pun terdengar ketika beberapa di antaranya berhasil, meskipun sebagian lainnya terus mencoba dengan penuh semangat.

Fenomena ini juga menarik perhatian wisatawan mancanegara. Salah satunya adalah Robby, seorang traveller dan konten kreator asal Swiss yang dikenal melalui kanal YouTube “Robby 3 Wheels”.

Robby mengaku sangat terkesan dengan pengalaman menyaksikan kulminasi matahari secara langsung di Pontianak. Menurutnya, fenomena ini merupakan sesuatu yang sangat langka dan tidak mudah ditemukan di negara lain.

“ Ini pengalaman yang luar biasa. Saya belum pernah melihat fenomena seperti ini sebelumnya. Saat bayangan benar-benar hampir hilang, itu sangat menakjubkan,” ujarnya.

Ia juga menilai bahwa kulminasi matahari memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai daya tarik wisata internasional. Dengan pengemasan acara yang menarik serta promosi yang tepat, Pontianak dinilai mampu menarik lebih banyak wisatawan dari berbagai negara.

“ Saya yakin jika event ini terus dipromosikan secara luas, ini akan menjadi daya tarik bagi orang-orang di luar sana,” tambahnya.

Sementara itu, Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menjelaskan bahwa fenomena kulminasi matahari yang terjadi pada 23 Maret 2026 merupakan bagian dari siklus alam yang rutin terjadi setiap tahun di kota ini.

Ia menyebutkan bahwa periode kulminasi biasanya berlangsung antara 21 hingga 23 Maret, serta kembali terjadi pada bulan September. Namun, tahun ini terasa lebih spesial karena bertepatan dengan bulan Syawal dan suasana Lebaran.

“ Tahun ini menjadi momen yang istimewa karena masih dalam suasana Idulfitri, sehingga antusiasme masyarakat juga meningkat,” ungkapnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa peringatan kulminasi matahari telah menjadi agenda rutin Pemerintah Kota Pontianak yang digelar dua kali dalam setahun.

Hal ini merupakan upaya untuk mengangkat potensi lokal sekaligus memperkenalkan keunikan geografis Pontianak ke tingkat nasional maupun internasional.

Menurutnya, fenomena ini merupakan identitas khas Kota Pontianak yang tidak dimiliki oleh daerah lain di Indonesia, bahkan di dunia. Oleh karena itu, pemerintah terus berinovasi dalam menghadirkan konsep acara yang lebih menarik dan edukatif.

“ Peristiwa ini menjadi ciri khas Kota Pontianak. Kami akan terus menggelarnya setiap tahun dengan berbagai inovasi agar semakin menarik,” pungkasnya.

Selain sebagai fenomena alam, kulminasi matahari juga memiliki nilai ilmiah yang tinggi. Peristiwa ini berkaitan dengan pergerakan semu matahari akibat kemiringan sumbu bumi.

Dengan memanfaatkan momen ini, masyarakat dapat belajar langsung tentang konsep dasar astronomi secara nyata. Di sisi lain, kegiatan ini juga berdampak positif terhadap sektor pariwisata dan ekonomi lokal.

Meningkatnya jumlah pengunjung memberikan peluang bagi pelaku usaha kecil dan menengah untuk berkembang, mulai dari kuliner hingga penjualan suvenir khas daerah.

Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku pariwisata menjadi kunci dalam mengoptimalkan potensi kulminasi matahari sebagai ikon wisata berbasis sains.

Momentum ini tidak hanya memperkuat identitas Pontianak sebagai kota khatulistiwa, tetapi juga membuka peluang besar untuk dikenal lebih luas di kancah global sebagai destinasi wisata unik yang menggabungkan edukasi, budaya, dan keindahan fenomena alam.

Share: