Jangan Tampilkan Lagi Ya, Saya Mau!

Kulminasi Matahari di Pontianak: Momen Tanpa Bayangan yang Memikat Dunia

Foto. Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono bersama para siswa SD ikut mendirikan telur pada momen Kulminasi Matahari. (Istimewa)

INFOWARGEPONTIANAK.COM, PONTIANAK– Fenomena kulminasi matahari kembali menjadi sorotan di Tugu Khatulistiwa, terlebih karena tahun ini bertepatan dengan suasana hangat perayaan Idulfitri 1447 Hijriah.

Peristiwa astronomi yang identik dengan momen “tanpa bayangan” tersebut sukses menarik perhatian masyarakat dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar hingga wisatawan mancanegara.

Kulminasi matahari merupakan kejadian ketika posisi matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa. Pada saat itu, sinar matahari jatuh tegak lurus ke permukaan bumi, sehingga bayangan benda tampak sangat pendek bahkan hampir menghilang.

Fenomena ini bukan hal yang terjadi setiap hari, melainkan hanya berlangsung dua kali dalam setahun, biasanya sekitar tanggal 21–23 Maret dan 21–23 September.

Di Kota Pontianak, yang dikenal sebagai salah satu kota yang dilalui garis khatulistiwa, peristiwa ini memiliki nilai lebih. Tidak hanya sekadar fenomena alam, kulminasi matahari telah menjadi bagian dari identitas daerah sekaligus daya tarik wisata berbasis edukasi.

Pada peringatan yang berlangsung Senin (23/3/2026), kawasan Tugu Khatulistiwa dipadati pengunjung sejak pagi hari. Warga tampak antusias menunggu momen puncak kulminasi yang terjadi menjelang siang.

Banyak di antara mereka datang bersama keluarga, sementara pelajar dari berbagai sekolah memanfaatkan kesempatan ini sebagai sarana belajar langsung di lapangan.

Salah satu aktivitas yang menarik perhatian adalah eksperimen sederhana yang dilakukan oleh para siswa sekolah dasar. Mereka mencoba mendirikan telur secara tegak tanpa bantuan alat.

Meskipun terdengar sederhana, percobaan ini sering dikaitkan dengan kondisi gravitasi dan keseimbangan saat kulminasi berlangsung.

Sorak sorai pun pecah ketika beberapa siswa berhasil membuat telur berdiri tegak, menciptakan suasana penuh kegembiraan dan rasa penasaran.

Namun secara ilmiah, fenomena berdirinya telur sebenarnya tidak sepenuhnya bergantung pada kulminasi matahari. Faktor utama yang memengaruhi adalah keseimbangan dan ketelitian dalam menempatkan telur.

Meski begitu, momen ini tetap menjadi cara yang menarik untuk mengenalkan konsep sains kepada anak-anak secara menyenangkan.

Selain masyarakat lokal, fenomena ini juga berhasil menarik perhatian wisatawan asing. Salah satunya adalah Robby, seorang pelancong asal Swiss yang dikenal melalui kanal YouTube “Robby 3 Wheels”. Ia sengaja datang ke Pontianak untuk menyaksikan langsung peristiwa langka tersebut.

Menurutnya, pengalaman melihat matahari berada tepat di atas kepala hingga bayangan hampir menghilang adalah sesuatu yang sangat unik dan tidak mudah ditemukan di negara lain.

“ Ini pengalaman yang luar biasa. Saya belum pernah menyaksikan fenomena seperti ini sebelumnya. Saat bayangan hampir tidak terlihat, rasanya sangat menakjubkan,” ungkapnya dengan antusias.

Robby juga menilai bahwa kulminasi matahari memiliki potensi besar sebagai daya tarik wisata internasional. Ia menyebutkan bahwa tidak banyak tempat di dunia yang mampu mengemas fenomena astronomi menjadi atraksi wisata yang bisa dinikmati secara langsung oleh masyarakat luas.

Menurutnya, dengan promosi yang lebih gencar serta pengelolaan acara yang kreatif, Pontianak dapat berkembang menjadi destinasi unggulan bagi wisatawan global, khususnya bagi mereka yang tertarik pada fenomena alam dan ilmu pengetahuan.

“ Jika dipromosikan dengan baik, saya yakin banyak orang dari berbagai negara akan datang ke sini untuk melihatnya,” tambahnya.

Sementara itu, Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, menyampaikan bahwa fenomena kulminasi matahari merupakan siklus alam yang rutin terjadi di kota ini setiap tahunnya.

Namun, tahun ini terasa lebih istimewa karena bertepatan dengan bulan Syawal, di mana masyarakat masih berada dalam suasana Lebaran.

Ia menjelaskan bahwa Pemerintah Kota Pontianak secara konsisten menjadikan peringatan kulminasi matahari sebagai agenda resmi yang digelar dua kali dalam setahun. Kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana edukasi dan promosi daerah.

“ Momentum ini sangat spesial karena bertepatan dengan Idulfitri, sehingga menjadi daya tarik tambahan bagi masyarakat dan wisatawan,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa kulminasi matahari merupakan salah satu ciri khas utama Kota Pontianak yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia.

Keunikan geografis ini menjadi modal penting dalam mengembangkan sektor pariwisata berbasis sains.

Pemerintah daerah, lanjutnya, terus berupaya menghadirkan inovasi dalam setiap penyelenggaraan acara kulminasi.

Mulai dari pertunjukan seni budaya, pameran edukasi, hingga kolaborasi dengan komunitas kreatif, semua dirancang untuk memberikan pengalaman yang lebih menarik bagi pengunjung.

Tidak hanya itu, pengembangan infrastruktur di sekitar kawasan Tugu Khatulistiwa juga menjadi perhatian. Fasilitas pendukung seperti area edukasi, pusat informasi, dan ruang publik terus ditingkatkan guna menunjang kenyamanan wisatawan.

Fenomena kulminasi matahari sejatinya juga memiliki nilai ilmiah yang tinggi. Peristiwa ini menjadi bukti nyata pergerakan semu matahari yang berkaitan dengan kemiringan sumbu bumi dan revolusi bumi mengelilingi matahari.

Dengan memanfaatkan momentum ini, masyarakat dapat lebih memahami konsep dasar astronomi secara langsung.

Selain aspek sains, kulminasi matahari juga memiliki potensi untuk dikembangkan dalam konteks budaya dan ekonomi kreatif.

Misalnya, melalui festival tahunan yang menggabungkan unsur tradisional dan modern, atau melalui produk-produk kreatif bertema khatulistiwa yang dapat menjadi oleh-oleh khas Pontianak.

Ke depan, kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri pariwisata, komunitas lokal, dan media menjadi kunci dalam mengoptimalkan potensi ini. Promosi digital melalui platform internasional juga dinilai penting untuk menjangkau audiens yang lebih luas.

Momentum kulminasi matahari di Tugu Khatulistiwa bukan sekadar peristiwa astronomi, melainkan simbol keunikan Pontianak sebagai kota yang dilalui garis khatulistiwa.

Perpaduan antara edukasi, wisata, dan budaya menjadikan fenomena ini sebagai aset berharga yang patut terus dikembangkan.

Dengan pengelolaan yang tepat, bukan tidak mungkin Pontianak akan semakin dikenal di kancah internasional sebagai destinasi wisata berbasis ilmu pengetahuan yang unik dan berkelas dunia.

Share: